Puisi Cak Nun - Doa Mohon Kutukan


cak nun
Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku
mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup,
mencari derajat tinggi dihadapanMu
sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku,
untuk menghalau dengki dari bumi
untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri

dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan
demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan
tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia
serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya
menanam pohon-pohonMu yang baru

ambillah hidupku sekarang juga,
jika itu memang diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati,
kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia

hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini,
jadikan duka deritaku ini makanan
bagi kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan,
asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu

jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu
diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah
potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya
seratus berikutnya dan seribu berikutnya,
sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hambaMu
menjadi terang benderang karena keikhasan

jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan
dibutuhkan kekalahan pada hambaMu yang lain,
maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu
ia menundukkan wajahnya dihadapanMu

jika untuk mengusir muatan kedunguan dibalik kepandaian hambaMu
diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain,
maka hancurkan dan permalukan aku,
asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir dihatinya

jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan
bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya,
maka sengsarakanlah aku
jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku,
maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku
jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu
adalah penyadaran akan kegelapan, maka gelapkan aku,
demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu

demi Engkau wahai Tuhan yang aku ada kecuali karena kemauanMu,
aku berikrar dengan sungguh-sungguh
bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang aku dambakan,
bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan,
serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan

demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku,
aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat,
hidupku hanyalah memandangMu
sampai kembali hakikat tiadaku

EMHA AINUN NADJIB
DARI KUMPULAN PUISI "DOA MOHON KUTUKAN" - 1994
sumber
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi Toni Lesmana



 
ilustrasi gambar

Di Situ Panjalu

kutemui jantung
ungu disaput kabut
mengapung di situ

denyutnya lembut
mengirim getar di hijau
air panjalu

itulah hutan yang mengambang
terdapat gerbang seperti celah tambang
yang mengundang kembang

ke sanalah perahu-perahu
kuyup dan meluncur
tubuh-tubuh berlumpur rindu

di sana ada kubur
di bawah daun-daun
dijaga sepasang harimau
kubayangkan kau di sini
di sampingku
menghirup maut

yang merdu
mengalun
sedikit bikin mabuk

dan khusyuk. Lalu kita limbung
berebut saling menawarkan tubuh
menjadi perahu dan dayung

menuju aum
di balik kabut itu
di dalam kubur-kubur itu

selalu ada yang ingin
dijenguk
dengan rindu

2014


Di Dada

kusimpan apa
yang kau turunkan itu
lurus ke hati
lurus ke langit

sebelah tubuhku pedih terbakar
sebelah lainnya nyaman gemerlap
entah mana
yang kelak akan abadi

2014

Toni Lesmana lahir di Sumedang, Jawa Barat. Menulis puisi dan prosa dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bergiat di Komunitas Studio Titikdua Ciamis.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 FEBRUARI 2015

sumber
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi Muhammad Sofyan Arif


 
sumber gambar

DENDAM
Oleh Muhammad Sofyan Arif

Dendam merasuk di jiwanya
Wajahnya trengginas memerah
tangannya terkepal mencakar langit
Matanya membelalak bak serigala
Kakinya terhentak menggetarkan bumi

Haha
Tapi aku tetap tersenyum
seperti melihat adegan drama saja
dengan tertawa sendiri dalam hati
menganggap semua bak fatamorgana

Praak...
tiba-tiba suara kayu di patahkan
aku hanya terdiam sambil bertanya dalam hati
apakah ini nyata atau imaji
sambil berbisik pada kursi yang membisu

Ooh..
ternyata orang gila
yang entah gila beneran atau keadaan yang membuat gila
karena geram dengan keadaan yang ada
serasa hidup yang ada itu tidak ada...
Karena para penguasa hanya bisanya berbual saja.

HADIRKU IBARAT DEBU

Tak ku sesali ketika kau harus pergi
dalam ruang-ruang rindu yang terus menderu
pada jiwa yang penuh luka dan kecewa
namun ku coba kuatkan diri
dengan tasbih ku jadikan penawar rindu

Hati kecilku bernyanyi merindumu
namun hadirku ibarat debu di atas permadani
yang tak mungkin pernah kau harapkan
walau sedetik menatap indahmu
dalam kesunyian lamunan malam

kadang ku bertanya tentang arti cinta
pada sepasang burung nuri di atas sana
bermesra indah tak pernah terpisahkan
kemudian aku tidak akan berharap apa-apa,
namun kenapa kau susupkan senyum manismu waktu itu?
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Alhusni Aris

Makna Dua KepalaKarya Alhusni Aris
Pagi ini
aku sempat gila
sebab bersua dengan dua orang yang beda bentuknya.
Di gedung lantai tiga
aku bersua orang pertama
dia berjalan tanpa kepala
entah sebab apa.
Lalu kudekati sembari bertanya
"Di mana kepalamu?"
Dijawab: Aku meletakkannya di rumah
kutinggal saja di sana
jika kubawa orang-orang akan iba dan aku tidak suka.
Sedang orang kedua
kusua di toilet
mungkin ia baru saja buang air,
entah sebab apa ia lupa mengunci resleting.
Aku terperanjat
rupanya ia tak berpunya.
Lalu kutanya,
"Punyamu mana?"
Dijawab: Hilang! Mending aku kehilangan itu daripada tak berkepala.

Tuanku
Karya Alhusni Aris
Siang itu ia datang,
air mukanya keruh,
pakaian tak rapi,
di tangannya ada modul,
dengan itu ia jelaskan materi.
Hanya sekejap,
entah sebab apa
penjelasan pun terhentikan.
Lakunya aneh,
kami jadi takut.
Lepas itu, modul ia kesampingkan
dan bercurhat dengan kami.
Katanya, “Anak-anakku bodoh-bodoh.”
Kami tertawa mengetahui itu
sedang ia kulihat malah ikut tertawa.
Beberapa saat kemudian
mukanya kembali keruh,
sikapnya langkah,
tawa pun kami hentikan.
Namun, tiba-tiba ada
rekan duduk di belakang lancang
“Istri Tuan bagaimana?” Iya cekikikan di sana.
Dijawab: Istriku tidak bodoh
jika kukata bodoh, lantas ia tahu, aku tidak akan punya anak lagi.
Kami tertawa, ianya malah tertawa juga.
Alhusni Aris Mahasiswa Semester VI di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Syiah Kuala.

sumber : OaseKompas
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi R Dianie Dasopang

sumber gambar

Ajal Tanah
Rengkuh rapuh jiwa lusuh
Rupa ragu membersit doa pintal sempoa nyawa
Gara bisa dosa masih serupa,
malah meninggi. Seperti pagi yang terlalu dini
Tubuh tak sesubur kemarin lagi. Dan
tanahpun merangkul tanah, sudah.
Bilik raga, 23 Februari 2013

Kebingungan [Ru]h dan Tu[Buh]
“Ya, sudahlah
aku tak mau menggila.”
Ingin tubuh berpeluh.
“Tapi masih?” kelit Ruh menderu.
“ya, sudahlah.
Sudah sudah.”
Lalu, ruh menjejal asa.
Akhirnya Ru Buh.
Bilik sesal, Februari 2013

A
Mengapa sangat sulit
meninta A di matamu ?
Padahal aku sudah mengganti tinta tahun lalu
Lalu, kenapa masih sulit
mengukir A di telapakmu ?
Padahal susahku tlah resah
mengganti warna,
Lalu, dengan apa aku harus
mengecap aksara A idamanku di kulitmu ?
 
Pekanbaru, Maret 2013

Perahu Se-Jiwa
Kita kembali di tanah tak berwarna ini
Mencukil kunci masuk ke perahu jiwa
Segenap akan berlayar di bongkahan awan
Ya. Kita.
Yang menarik sudut bibir hingga ke pipi
 Mengaitkannya dengan penyangga. Berharap
seperti ini selamanya.
Kita telusuri langit
tanpa dayung,
simbol di layar kembang, dan
lagu kemarin. Kita
menertawai bumi dengan lancang
Tapi, kau ulangi lagi
Menjatuhkan pintu yang terkunci
Karpet biru, Maret 2013

[cum]Bui Malam
Satu, gelap
Dua, dingin
Tiga, sunyi sepi sendiri
lalu,
Untuk apa riuh mencumbui malam ?
*Bui = penjara
Bilik malam, 25 Februari 2013

Hening
Dan yang bicara hanya udara.
Tanpa bilik, Februari 2013

Biodata
R Dianie Dasopang, dara kelahiran 5 Oktober 1992, Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Mahasiswi semester empat Kimia Fmipa Universitas Riau. Bermula menyukai menulis cerpen sejak SMP, pernah meraih juara I (Putri) Lomba Mengarang Tingkat Kabupaten Rokan Hulu Riau 2008, dan Juara I Lomba Penulisan Cerpen Peksimika Universitas Riau 2012. Membaca puisi sejak TK, pernah juara I Membaca Puisi saat TK di Padang Sidempuan. Kini tertarik menulis puisi dan saat ini bergiat di Community Pena Terbang (COMPETER) Pekanbaru.

sumber : Oase Kompas
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Aish Assaghaf


Novme
Engkau bulan sepenggalah ruh
Rangkai inang menugal tubuh
Pelaminan Ilmu
Melamar bukubuku tetang iman
Bersanding status di mata zaman
Mempesta diri dalam kezuhudan

Shubuh Rindu
berkembang kokokan menyambut
Basah wudhu menyejuk tubuh
Membuka tangan selepas niatku
Kuhiasi mata shubuh retina rindu.
Pekanbaru, 19 Mei 2013

Membakar Hasrat
Mari,
kemarilah.. kan kubersihkan wajah dari noda harimu.
Biar kering tangis yang membakar rumpang hasrat
Biar pecah kerinduan di liang keringat

Jasmani Hati
Ini jasmani pengaguman hati
Bermurai puisi lukisan karya
Berlihai melarikan angka
Tu yu lah
Mencuri di harta di tapa dupa
Engkau tuyul dimensi usia
Menganaki kemiskinan baka


Aish Assaghaf memiliki nama lahir sebagai Tengku Iskandar. Lahir di Pelalawan, 24 Desember 1991. Mahasiswa Bahasa Indonesia FKIP UIR sekaligus sedang aktif di COMPETER ( Comunitas Pena Terbang).

sumber : oasekompas
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati