Puisi-puisi Putu Gede Pradipta

ilustrasi gambar

Bersendiri

Di dalam hati. Barangkali
merampungkan doa puisi.

(2013)
Penyair Muda

Penyair yang terlalu muda
menulis puisi tentang cinta
perempuan lena dibuatnya.

Ia meraba-raba antara kata
dan makna yang bersilangan
dalam luapan birahi semata.

Penyair yang terlalu muda
wajar ia akan lupa tentang
siapa di balik sunyi dirinya.

(2013)
Nostalgia di Parkiran
Kampus Mahasaraswati

Angin mematahkan daun
cahaya. Pohon ketapang itu
menjatuh-hamburkan sepi
yang perlahan jadi ombak.
Merambat lalu mengusik
silsilah debar lama semayam
dalam gua jatung. Aku batu.
Aku yang bisu. Si pertapa
bernama rindu. Hulu beku.
Muara doa-doa membiru.
Sebagaimana aku akan berlalu
dan berakhir pada jalan waktu;
maha terang yang puisi.

(2013)
Warna Cinta Kita
Keluasan langit di sini begitu biru dan
belum juga cukup dalam mengisahkan
warna cinta kita yang tak sebatas kata.

(2012)
Mengenai yang Kucari
Apa yang kucari. Pergi dan
pergi. Menjelajahi malam sendiri.
Menampung dingin layaknya
penyair. Sampai buntu malam.
Sampai mata tak betah dalam
jaga. Dengan sanggup sebatas
ingin. Menahan puisi-puisi yang
dikandung berhembus seiring
angin. Berbatas semesta. Di
samudra kata-kata. Masih juga
kulihat. Yang kucari biru adanya.
(2013)
Kekasihku
Kekasihku menyanyi di kamar mandi.
Lagu-lagunya demikian merdu. Membenih
ribuan mawar hujan di kebun mataku.
(2013)
Biodata
Putu Gede Pradipta lahir 18 Desember. Bermukim di Denpasar. Mahasiswa program studi Bahasa
dan Sastra Indonesia Universitas Dwijendra. Tergabung dalam kelompok menulis.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Lailatul Kiptiyah

sumber gambar

Beberapa Puisi yang Terangkum Hari Ini
/1/
di ladang sepi
matahari matang
sekuning kecapi
/2/
sepotong hari melumer
di time line twitter
ingatan, kenangan dan
melankoli serupa serbuk
tergenggam jemari tangan
saling berucap salam dan
berpeluk di dinding-dinding
dan halaman facebook
/3/
di lubuk kuali
peluhmu jatuh
menjadi genangan nyeri
/4/
hujan yang kembali menyebar
sederas rindu yang kutampung
di muara sabar
/5/
barangkali karena hujan yang
tersendat tiba dari jauh
diambang latar
bunga sepatu tak kunjung mekar
maka angin dan kupu-kupu
saling berganti menyentuh
menyingkap tiap-tiap kuncup
dengan gairah cinta paling utuh
/6/
di senja sebelum magrib
aku mengenang dukamu
yang begitu karib
/7/
memandangi langit
warna ambar
daun-daun luruh
di dada rerumputan
menceritakan sakit
menyatukan debar
/8/
kaukah angin yang meniupkan
desir rindu itu:
mengusir luka
dari musim-musim
kesedihanku
/9/
di hutan kecil ini betapa sepi
telah menjadi karib bagi
bebatang jati
menjulang sendiri dan tua
ditinggal luruh daun-daunnya
menetapi keberadaannya,
burung-burung menyusun sarang
di semak dan carang-carang
membangun keluarga
menemaninya
saban hari mereka gemar
menghibur dengan  membaginya
kidung-kidung agung
kidung yang menyerupai doa-
doa yang kekal
membubung tinggi menggapai
langit yang berselubung hilal
/2013/
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Turut bergabung di Komunitas Penulis Perempuan Indonesia (KPPI) dan suka berkhidmad di PaSar Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam). Saat ini bekerja di Jakarta.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Umar Affiq

sumber gambar


Telaga Warna
Selera wajah yang tak kunjung karam
teguh walau redup berlalu
kuasai keriput belulang pipi
batu-batu kening terkenang dalam almbum merah muda
lalu benang hitam yang tergerai
terombang-ambing dibelai rindu
aku beku
gempita mata menyergap
hingga dua kutub bersujud
padu dalam dada
bersemayang di pematang dentum jantung dan nadiku

Pantura, 1 April 2012
Mawar Putih
Jemariku patah
dipinang tarian lengan surga yang kau ikatkan di kedua bahuku
rekahkan sayap
menghentak-hentak bak meriam Belanda menimbun sejarah
dingin
dingin mengguyur punggung
aku mematung tertikam mawar putih yang kau selipkan pada belah bibir
kalah dengan senyum

Makam Agung, 4 April 2012
Ruang Persembunyian Sang Penakhluk
Wajahmu begitu sulit kucairkan
serpih senyuman itu semakin dalam melipur
menusukkan duka di antara diatrema jiwa
menjadi butir-butir mutiara dalam darah
menua
beku sejadi-jadinya
kembali pecah seperti bongkah berlian
indah helaian silaunya terbaca mata
meski darah melinangi ujung kempis
tajam mengakar di jantung

tak tau entah kapan tulisan ini berhenti menjelaskan
tinta-tintaku semakin luas menyibak Pasifik
mencari kuadran di mana kau disembunyikan Tuhan
di sana
dikantungi kelopak ungu
kau agung-abadi

Makam Agung, 4 April 2012
Awan Malam
Batu-batu putih bertabur di atap kepala
menutup rawa gelap
mengelilingi sumur cahaya yang gersang
letih tanpa keperawanan
aduhai malang melintang di dahi dan pahanya
berkilau menyulik retina
bulu lentik bak susuk duri landak
pedih tak terkira
kasar membatukan badan

Makam Agung, 5 April 2012
Nasi Goreng Tuhan
Tuhan,
lihatlah nasi goreng yang Kau tumpahkan di kelakar langit tuaMu
tambah tua tambah pula ia memudar
basi dan memutih seperti nasihat kayu
dan padi yang kering kurus dirampas tikus

Tuhan,
pandanglah kuning telur yang Kau benamkan pada piringan hitam pupilku
segankah Engkau membiarkannya gosong diliput airmata dosa
akankah jadi tulang persembahyangan utuh terhidang untukMu
mestinya kuning telur itu menambahkan daya dan vitamin pada daging-daging keimanan
tapi urat apa yang mengakar di sana, hingga ayat-ayat pedangMu terasa tumpul bak sebilah angin melewati dinding kendang lalu lalai terbuang
tanpa guna

Makam Agung, 7 April 2012
Biodata: 
Umar Affiq adalah nama pena dari Mohammad Umar Muwaffiq. Lahir dan besar di Rembang, Jawa Tengah. Sekarang ia adalah seorang mahasiswa Teknik Informatika di Unirow Tuban, pegiat sastra dan menjadi anggota KOSTRA (Komunitas Sastra). Sejak kecil sering menjuarai lomba baca puisi Jawa (Geguritan) dalam beberapa ajang kompetisi. Karyanya pernah menjuarai Mei Review 2012 (Divapress), Flashnya dimuat dalam antologi Wonder Women (AE Publishing, 2012), Antologi Puisi Ibu (GP Publishing, 2012), Antologi Puisi Mengeja Hujan (Lentera Ilmu Jogyakarta, April 2013), puisinya juga dimuat di Majalah Atas Angin (Bojonegoro), kompas.com (Jumat, 5 April 2013), Radar Bojonegoro.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Fahrul Satria Nugraha


Sajak Jingga
Kepada Raray Istianah

jingga,
pada separuh senyumu adalah angin yang melantun di gedung tua ini

sepuluh detak jantung,
itu adalah lelaki-lelaki yang berguguran serupa daun-daun trembesi  di pelataran sembab ini

kelak pejantan akan melewati lingkaran yang telah kau persiapkan 
dalam hujan yang kau tenun membentuk jerat , melintangi setiap penjuru bumi

berhati-hatilah,
bukankah mereka pemburu ?

FPBS lama, 2013

Selasar itu
Untukmu Nur Istiqomah

bukankah kita larut pada hujan yang merintik ini ?
setelah menanti lama di selasar itu,
merenung di antara kunang-kunang  dengan sebongkah embun
dan gemuruh yang menyayat heningnya langit

kemudian aku berkata ;
syukurlah,
karena bukit-bukit lembang  telah menguping percakapan kita.

ketika itu tanah-tanah basah tercium semakin menyengat,
jadilah kita semacam jangkrik yang saling mengerik

malam ini jalanan telah meredup, nur
tapi hangat itu menyertai tubuh kita.

Dago, 2013

Nyayian
melenyaplah malam ini
bersamaan dengan senyummu
nada-nada yang kita nyanyikan
dalam lembab dengan tiga buah bintang yang berkedip merayu

rembulan menyudahi suara kita pada seperempat malam yang layu
dan aku berkata yang hanya itu-itu saja

kemudian kita bernyanyi kembali
melelapkan serangga pada tidurnya yang begitu pulas

beringin, berikanlah kami angin
yang merdu tanpa sendu yang mendayu-dayu
karena kami telah merekah
pada puisi yang kami nyanyikan ini.

Bandung, 2013
Fahrul Satria Nugraha. Lahir di Bandung, 21 November 1992. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Senirupa Universitas Pendidikan Indonesia. Penikmat seni dan aktif mengikuti berbagai kegiatan di bidang seni sastra dan rupa. Bergiat di Himpunan Mahasiswa Seni Rupa UPI (HIMASRA) sebagai Ketua Angkatan Senirupa UPI Tahun Angkatan 2011. Beberapa karya berupa puisi, dan drawingnya telah dimuat di media masa, baik nasional maupun daerah. Dibidang kesenirupaan, bergiat aktif dalam penyelenggaraan kegiatan yang berhubungan dengan seni rupa.
Twitter       : @fahrulsatrian
Facebook  : Fahrul Satria N

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

batakukisme
Marga, di hutan mana kau kini menjadi kelamin, sayang?
kenangan telah menjadi ilalang coklat yang terbakar
dan seikat nasihat ayah, telah terungkai ke dalam bangkai
tersadai menjadi eksil paling runyam dalam kedalaman
batakukisme yang buta blingsatan

Marga, ibuku pun telah kelayuan kembang Melayu
didodoinya tubuh batakukisme dalam nyanyian subarang
seolah menasibkan besarku nanti pantas jadi begu ganjang
daripada menjadi orang yang terbuang silsilah kepatrialan

tetiba dewasa aku menjadi bodoh duka pada batakukisme
ayah yang dijarah kematian lebih mula, menjadikan keluntur
sukuku bolong membolong sempurna. pun ibu yang kelayuan
kembang Melayu, tak mampu menerjemahkan tetanda 
peninggalan ayah.

Marga, 
ajak aku bertapa ke hutan kelamin. mencari batakukisme
yang gentayangan lebih ngeri dari bayang buas begu ganjang

MAeRI F 2013

Roban
ayam dikandang dekat musang 
kayu haloban selalu lebih lapuk dari segala pagar
Ular Dari, dengan gayanya yang butageni
selalu mampu membuat ayam berkokok sebelum
subuh menyalakan fazar kizzib yang merah tiruan

ayam mati dalam kandang
musang bergelut dengan Ular Dari, seolah mereka
samasama melihat atawa mereka samasama buta

MAeRI F 2013

Mendada
tak ada yang mampu mendadadadaiku
selain dadamu. 
padanya kau simpan ayunan rahasia
bagi tidur jiwaku yang manja, 
dadamu adalah puting ibu  
tempayan menyusu mungil cintaku.

MAeRI F 2013
Muhammad Asqalani eNeSTe, Keturunan Mandailing - Melayu. Kelahiran 25 Mei 1988. Kala kecil ia gemar sekali menari dan menyanyi. Kini ia lebih tertarik mengkoleksi foto bayi lelaki, belajar psikologi hidup, dan membuat resep masakan sendiri. Bahasa Inggris dan Puisi adalah dua sisi yang saling melengkapi kesehariannya. Buku tunggal ke-nya adalah "ABUSIA". Belajar dan Mengajar di Community Pena Terbang (COMPETER).

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Puisi-puisi Susan Gui

ilustrasi gambar


Pada Sebuah Kota
Derai kata yang tertabur rinai
Basah telungkup aspal legam
Sebagian mereka berlari menghimpit raga
Di antara mereka berdiri di bawah rerindang
Tidak perlu hujan dihalau
Biar meruak wangi tanah-tanah basah
Rambah di sebagian kita
Ah, ini mungkin hanya sebagian tanya
Pada sebuah kota
Gegaris Senja
Garis wajahmu,
selalu kuingat, dari jutaan aku menggaris kenangan
Akhirnya perasaan itu padam, mengerjap pada belukar perasaan

Bulir mata air menderas
Durja seperti darah
Mengalir dari daging perasaaan
Kita akhirnya lupa, berjumpa bukan sekedar hanya merasa
Tapi takdir memetik kita pada sebuah masa

Hanya pada sebuah senja
Kau kirimkan kuntum bunga padma
Terselip antara tebing buah dada
Untuk kemudian kau selipkan di antara hati

Ah. itu memori pada sebuah memoar sekejap pandang,
Pada Senja pertama Lelaki tua menggambar dua orang yang memandang senja; menggaris kita, sayang, hanya pada sebuah senja.
Pada Sebuah Senja
Mengular waktu melilit bisu
Pada bola mata kita terlentang ragu
Ada pelangi memintas sepi
Dan nyata kita enggan kembali
Berlari kini kita menyemak masa
Pada seribu purnama diam kita sama merasa
Ribuan gelaran senja menjadi saksi
Pada janji bukan sekedar mengada
Tapi kini kasih; kita menikam jantung bukan karena cinta
Semata hanya pada sebuah senja,
kita mau tertunduk pasrah pada kenangan
Ini cinta kubilang; tapi kita sama tak berdaya.
Jakarta, 11 September 2012
Ibu
Gui Hok Yang, anakmu pulang berdarah. Sekali ini memanglah kau segala. Dari rahimmu aku tertuang dalam cerita, dari rahimmu aku menjadi diri ini.
Kali ini, senja ini, aku kembali.
Gui Hok Yang, anakmu kalah ribuan kali, kau tersenyum di tepi pintu dan menerimaku kembali. “Kemari nak, perih ini mampu kita obati”.
Ibu betapa kau segala dalam metrum darahku, kau gurat selaksa doa.
Dan kali ini aku menepi di pinggir kakimu, ibu, doakan sekali lagi?
Gui Hok Yang, kau segala ibu, ibu, ibu.
Gui, 2012.
Apa Kabar?
Apa kabar buah dada?
Tidak adakah buah selama musim kemarau ini?
Kering mengigil memakan hijaumu
Kilau hidup hambar jadi kuning kusam
Kemarau menyesap sarimu
hingga hanya butir darah luka menitik pelan
Kandas
Apa kabar bulubulu halus
yang sering merimang gigih
sewaktu sentuh menjadi kata paling jujur
Kini bulubulu itu menggoyangkan dirinya sendiri,
menafsirkan kehilangan sebagai
jumpa entah pada aras apa
Apa kabar lukisan pada buah-buah
yang tidak pernah menguncup putik?
Itukah sidik jarimu pada sekujur jangat yang pasi
Aih apa kabar buah dalam dada
yang sedemikian aku rindui dalam diam.
Mengucuplah dalam musim penghujan
tatkala tetesan pertama
merembes pada jalur nadimu
yang merimang bulubulu halus;
maaf, aku hanya rindu..
GUI, 2012
Padamu
Pada jemarimu yang mencengkram pinggir kasur; erat
Pada jejang lehermu
Pada punggungmu berbulubulu
Padamu; semua aku jadi bisu.
Gui, 2012
Susan Gui, pecinta buku dan Kesenian, lahir pada 11 September 1984. Tinggal dan bekerja di Jakarta.

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati